Hari Ketika Semua Huruf Menghilang

 Pagi itu Tania bangun seperti biasa. Tapi saat meraih buku catatannya di meja, ia menatap halaman yang… kosong. Semua tulisan yang semalam ia tulis, hilang. Ia mengucek mata, membalik halaman, membuka buku lainnya — semuanya putih polos.

‎"Apa aku bermimpi?" gumamnya.

‎Saat membuka ponsel, chat dari temannya hanya terlihat sebagai gelembung kosong. Status WA hanya bergambar — tanpa huruf, tanpa kata. Ia panik, berlari keluar kamar dan menemukan kakaknya sedang sarapan sambil menatap koran kosong dengan ekspresi bingung.

‎"Apa-apaan ini?" ujar kakaknya. "Koran ini... nggak ada tulisannya sama sekali."

‎Ibu mereka menyalakan TV, dan ternyata berita pagi hanya suara reporter tanpa teks atau nama. Papan nama toko-toko di jalan pun berubah menjadi papan putih polos. Bahkan rambu lalu lintas hanya tinggal warna — tanpa tulisan.

‎Seluruh dunia, seolah kehilangan bahasa tulis.

‎Sekolah diliburkan karena "gangguan teks nasional". Semua guru bingung, siswa senang — tapi juga heran. Guru Bahasa Indonesia bahkan hampir menangis melihat rak buku perpustakaan hanya berisi halaman kosong.

‎Namun ada satu hal yang membuat Tania berbeda: ia masih bisa membaca dan menulis. Ia mencoba menuliskan “Halo” di kertas dan menunjukkannya ke ibunya. Tapi sang ibu hanya melihat halaman kosong.

‎"Aku nggak lihat apa-apa, Tan," ujar ibunya heran.

‎Tania tahu, ini bukan mimpi. Ini adalah… sesuatu yang lebih besar.

‎Petang itu, Tania pergi ke perpustakaan kota — walau sudah ditutup. Di tengah rak-rak sunyi, ia mendengar bisikan, seperti suara kata-kata yang hilang. Lalu muncullah sosok berjubah tinta dan berjenggot panjang: seorang pria tua bernama Kamus.

‎"Aku adalah penjaga kata," katanya. "Dari Dunia Kata, tempat semua huruf berasal."

‎Tania terdiam.

‎“Huruf-huruf hilang karena manusia mulai lupa menghargai mereka. Mereka menulis tanpa makna, menyebar kebohongan, saling menyakiti dengan kalimat tajam. Huruf-huruf itu... sedih. Mereka pulang ke asalnya.”

‎Tania duduk, mendengarkan dengan mata membulat.

‎“Kamu, Tania,” lanjut Kamus, “punya hati yang tulus. Kamu masih menulis dari rasa. Maka kamu bisa melihat huruf. Tapi kamu juga satu-satunya yang bisa mengembalikan mereka.”

‎“Bagaimana caranya?”

‎“Tulis satu kalimat. Kalimat terakhir. Kalimat yang cukup kuat untuk membangunkan semua huruf. Tapi setelah itu… kamu akan melupakan seluruh bahasa. Kamu tak akan bisa membaca dan menulis lagi.”

‎Tania menunduk. Itu berarti ia tak bisa lagi menulis ceritanya, membaca novel favorit, atau menulis puisi-puisi yang ia simpan diam-diam. Tapi… ia juga teringat wajah adiknya yang menangis tadi karena tak bisa membaca cerita dongeng. Ia teringat gurunya yang bingung. Ia tahu, dunia butuh kata-kata.

‎Malam itu, di bawah cahaya lilin, Tania menuliskan satu kalimat terakhir:

‎“Kata-kata adalah jembatan antara hati.”

‎Saat tinta terakhir mengering, kertas itu bersinar terang. Tania merasa hangat dan… ringan. Lalu semua huruf di sekitarnya kembali. Buku-buku bersuara. Rambu lalu lintas terbaca. Papan nama toko kembali jelas. Dunia membaca lagi.

‎Namun saat Tania melihat kembali kertas itu… ia tak bisa membacanya. Ia mencoba menulis lagi, tapi tangannya hanya menggambar garis-garis tanpa arti.

‎Ia kehilangan huruf. Tapi ia tahu, ia menyelamatkannya untuk semua orang.

‎Hari-hari berlalu. Dunia pulih. Guru-guru mengajar lagi. Anak-anak membaca lagi. Namun di kelas, Tania duduk diam saat pelajaran menulis. Ia tak protes. Ia hanya tersenyum saat melihat teman-temannya kembali menulis surat untuk orang tua, membuat puisi, dan membaca buku cerita.

‎Di pojok perpustakaan, ada satu buku kecil — tanpa pengarang. Di halaman pertama tertulis:

‎"Terima kasih, T."


‎Orang-orang tak tahu siapa “T”. Tapi saat mereka membaca, mereka merasa hangat. Karena di balik kata-kata itu, ada seorang gadis kecil yang mengorbankan huruf-hurufnya… agar dunia tidak kehilangannya lagi.

Comments

Popular posts from this blog

Perbandingan Sistem Pendidikan Indonesia dengan Negara Lain

Soal dan Jawaban

Membuat Soal Latihan Bahasa Indonesia Kelas 9